anface
Selasa, 10 September 2013
Kamis, 27 Desember 2012
Olahraga berpotensi menimbulkan cedera. Apalagi bagi atlet, cedera bisa dibilang menjadi bagian dari kariernya. Coba saja simak pengakuan Koko Prasetyo Darkuncoro, atlet bola voli pantai ini.
Atlet kelahiran Yogyakarta, 2 Oktober 1981 yang juga pernah mengalami cedera itu berpikir praktis saja ketika mengalami cedera. Tentu dia menyadari adanya pilihan penyembuhan, baik cara tradisional maupun medis. Kata dia, yang lebih penting adalah istirahat dan melakukan terapi secara rutin.
“Jika mengalami cedera saat berolahraga, menyembuhkannya adalah beristirahat dengan benar. Waktu istirahat jangan digunakan untuk latihan atau melakukan pekerjaan lain, karena akan memperlambat waktu penyembuhan,” jelas pengumpan terbaik (the best server) pada ajang Proliga 2002 itu.
Terkait dengan pengobatan tradisional dengan terapi urut, Koko menjelaskan itu tergantung dari setiap orang. Namun diakui, atlet yang cedera sebenarnya harus membenahi urat-urat atau bagian tubuh yang mengalami cedera dengan cara dipijat terlebih dulu. Setelah itu baru terapi.
Jadi prosesnya, urat-urat atau bagian yang cedera dibenahi dulu melalui pijat agar keadaannya kembali seperti semula. “Selanjutnya adalah terapi. Ada juga seperti di luar negeri, langsung melakukan operasi,” ujar pria dengan tinggi 185 sentimeter ini.
Bagaimana pengobatan cedera dengan minum jamu? Koko berpandangan bahwa hal itu sama sekali tidak memiliki pengaruh terhadap penyembuhan cedera karena berolahraga. Dia menilai mengonsumsi jamu bukan bagian dari proses penyembuhan, melainkan sebatas menjaga kondisi badan saja.
“Dan saat sekarang semua khasiat jamu sudah ada dalam vitamin. Jika tetap mengkonsumsi jamu, biasanya untuk dipopokin dari luar yang ditempel di bagian tubuh yang mengalami cedera,” imbuhnya.
Koko pun menceritakan pengalamannya saat menjalani proses penyembuhan cederanya. Dia mengaku tidak pernah langsung melakukan terapi ke dokter rehabilitasi medis atau fisioterapis.
Lalu apa yang dilakukannya?
“Saya biasanya melakukan pemijatan terlebih dulu, kemudian dilanjutkan dengan terapi,” katanya.
“Biasanya yang langsung melakukan massage itu spesialis dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang ditunjuk langsung oleh pelatih dan organisasi," urainya.
Soal pengalaman cedera itu, Koko sudah mengalami cedera engkel dua kali pada kaki kiri dan kanannya. Dan dia percaya bahwa untuk menyembuhkan cederanya dengan cara dipijat, karena dapat menghasilkan hasil yang maksimal.
“Saya memilih dipijat, karena setidaknya dapat mengembalikan keadaan dan kondisi anggota badan saya yang mengalami cedera dengan maksimal,” ujarnya.
Namun dia mengakui bahwa hasilnya tidak seperti saat sebelum mendapatkan cedera. “Tapi setidaknya, sudah lebih baik dibanding saat cedera. Dan jika terapi, saya melakukannya sendiri di rumah, untuk mengencangkan otot-otot yang mengendur saat cedera,” ungkapnya.
Atlet kelahiran Yogyakarta, 2 Oktober 1981 yang juga pernah mengalami cedera itu berpikir praktis saja ketika mengalami cedera. Tentu dia menyadari adanya pilihan penyembuhan, baik cara tradisional maupun medis. Kata dia, yang lebih penting adalah istirahat dan melakukan terapi secara rutin.
“Jika mengalami cedera saat berolahraga, menyembuhkannya adalah beristirahat dengan benar. Waktu istirahat jangan digunakan untuk latihan atau melakukan pekerjaan lain, karena akan memperlambat waktu penyembuhan,” jelas pengumpan terbaik (the best server) pada ajang Proliga 2002 itu.
Terkait dengan pengobatan tradisional dengan terapi urut, Koko menjelaskan itu tergantung dari setiap orang. Namun diakui, atlet yang cedera sebenarnya harus membenahi urat-urat atau bagian tubuh yang mengalami cedera dengan cara dipijat terlebih dulu. Setelah itu baru terapi.
Jadi prosesnya, urat-urat atau bagian yang cedera dibenahi dulu melalui pijat agar keadaannya kembali seperti semula. “Selanjutnya adalah terapi. Ada juga seperti di luar negeri, langsung melakukan operasi,” ujar pria dengan tinggi 185 sentimeter ini.
Bagaimana pengobatan cedera dengan minum jamu? Koko berpandangan bahwa hal itu sama sekali tidak memiliki pengaruh terhadap penyembuhan cedera karena berolahraga. Dia menilai mengonsumsi jamu bukan bagian dari proses penyembuhan, melainkan sebatas menjaga kondisi badan saja.
“Dan saat sekarang semua khasiat jamu sudah ada dalam vitamin. Jika tetap mengkonsumsi jamu, biasanya untuk dipopokin dari luar yang ditempel di bagian tubuh yang mengalami cedera,” imbuhnya.
Koko pun menceritakan pengalamannya saat menjalani proses penyembuhan cederanya. Dia mengaku tidak pernah langsung melakukan terapi ke dokter rehabilitasi medis atau fisioterapis.
Lalu apa yang dilakukannya?
“Saya biasanya melakukan pemijatan terlebih dulu, kemudian dilanjutkan dengan terapi,” katanya.
“Biasanya yang langsung melakukan massage itu spesialis dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang ditunjuk langsung oleh pelatih dan organisasi," urainya.
Soal pengalaman cedera itu, Koko sudah mengalami cedera engkel dua kali pada kaki kiri dan kanannya. Dan dia percaya bahwa untuk menyembuhkan cederanya dengan cara dipijat, karena dapat menghasilkan hasil yang maksimal.
“Saya memilih dipijat, karena setidaknya dapat mengembalikan keadaan dan kondisi anggota badan saya yang mengalami cedera dengan maksimal,” ujarnya.
Namun dia mengakui bahwa hasilnya tidak seperti saat sebelum mendapatkan cedera. “Tapi setidaknya, sudah lebih baik dibanding saat cedera. Dan jika terapi, saya melakukannya sendiri di rumah, untuk mengencangkan otot-otot yang mengendur saat cedera,” ungkapnya.
Rabu, 06 Juni 2012
Langganan:
Komentar (Atom)